Oleh:
Nikmatul Husna (nikmatulhusna13@gmail.com)
Sri Rejeki (srirejeki345@rocketmail.com)
P
embelajaran matematika adalah suatu proses yang melibatkan aktivitas manusia. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Freudenthal dalam Zulkardi (2002:29) “Mathematics as a human activity”. Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran matematika siswa harus berpartisipasi aktif untuk menemukan konsep-konsep. Siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan pola pikirnya dan melakukan berbagai macam kegiatan untuk menemukan konsep-konsep. Partisipasi aktif yang dilakukan siswa dalam menemukan konsep-konsep akan menjadikan pembelajaran tersebut menjadi lebih bermakna. Sehingga siswa akan lebih memahami konsep-konsep tersebut dan akan lebih lama dalam mengingatnya.
Salah satu cabang matematika yang di ajarkan di sekolah adalah geometri. Menurut Van Hiele dalam pembelajaran geometri terdapat lima tingkatan hierarkis (dalam yearbook NCTM). Kelima tingkatan tersebut adalah: tingkat 0 (visualization), tingkat 1 (analysis), tingkat 2 (abstraction), tingkat 3 (deduction), dan tingkat 4 (rigor). Tingkat visualisasi sering disebut dengan tingkat pengenalan. Siswa mengenal konsep-konsep dasar geometri yaitu bangun-bangun sederhana seperti persegi, segitiga, persegi panjang, jajar genjang dan lain – lain. Pada tingkat analisis siswa sudah memahami konsep atau bangun geometri berdasarkan analisis informal tentang bagian dan komponennya. Pada tingkat deduksi, berpikir deduktif siswa sudah mulai berkembang, tetapi belum berkembang dengan baik.Pada tingkat rigor, siswa sudah dapat bekerja pada system aksioma-aksioma.
Berdasarkan tingkatan tersebut dapat dipahami bahwa guru harus membimbing siswa secara bertahap dalam pembelajaran geometri. Dalam pembelajaran siswa diberikan kesempatan untuk melakukan pengamatan, pengukuran, eksperimen, menggambar dan membuat model. Namun pada kenyataannya di lapangan ditemui bahwa guru tidak menciptakan pembelajaran berdasarkan tahapan-tahapan dalam mempelajari geometri. Siswa langsung diberikan rumus-rumus tentang bangun datar atau bangun ruang yang dipelajari. Hal ini mengakibatkan siswa hanya menghafal saja tanpa mengetahui bagaiamana rumus-rumus tersebut dapat diperoleh.
Pendidikan Matematika Realistik adalah salah satu pendekatan yang sangat sesuai dalam pembelajaran geometri. Pada pembelajaran ini siswa diberikan konteks dalam dunia nyata terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan melakukan berbagai kegiatan untuk mengembangkan pola pikir siswa dalam menemukan konsep-konsep. Siswa dapat mengembangkan pemahamannya dari informal ke formal.
Berdasarkan uraian di atas, observer mendesain pembelajaran geometri di Sekolah Dasar dengan pendidikan matematika realistik di kelas VI pada pokok bahasan lingkaran untuk mencari nilai π dan rumus keliling. Proses pembelajaran ini menggunakan konteks tutup kaleng yang berbentuk lingkaran. Konteks ini diambil dengan anggapan bahwa barang tersebut sering dijumpai oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan pembelajaran ini, observer ingin mengetahui bagaiamana keefektifan desain pembelajaran pendidikan matematika realistik dengan konteks tutup kaleng berbentuk lingkaran dalam menemukan nilai π dan mencari rumus keliling.
Kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan pada hari Selasa, 30 November 2012, di kelas VI B pada Sekolah Dasar Negeri 98. Siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran ini berjumlah 33 siswa yang terdiri 17 orang laki-laki dan 16 orang perempuan. Kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan secara bekerja sama dengan guru matematika kelas VI yaitu Ibu Kartini, S.Pd.
Paper ini adalah laporan hasil observasi pertama pada mata kuliah Classroom Observation, untuk versi lengkapnya dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris dapat didownload pada link di bawah ini:
Bahasa Indonesia
English
